Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

28.11.10

BHP = PRIVATISASI, (Instrument globalisasi)

CeZLy PSB
“SEBUAH KETAKUTAN YANG BERALASAN”

Sitou Timou Tumou Tou (Sam Ratulangie)
Tabea……!
    Mungkin agak aneh melihat kekhawatiran dari gejolak protes yang begitu massif dari teman-teman mahasiswa di nusantara menanggapi kebijakan (ke-tidakbijak-an) legislatif yang ‘berhasil’ menetapkan UU BHP (badan Hukum Pendidikan).  yang lebih aneh lagi, sikap protes tersebut menjadi lelucon bagi kita (mahasiswa unima). penulis beranggapan mungkin dikarenakan ‘kita’ belum begitu akrab dengan ‘teman’ baru kita yang bernama BHP (tak kenal maka tak sayang). Nah sebelum BHP memperkenalkan diri, penulis tanpa permisi coba untuk memperkenalkan BHP sejauh yang bisa untuk diperkenalkan, nantinya biar kita sama-sama menilai apakah ‘dia’ (BHP. red) baik untuk disayangi atau tidak. tulisan ini menjadi begitu ringan dan sederhana agar tidak ada kepanikan dari ketakutan akan BHP.
Ketakutan akan ter-BHP-nya perguruan tinggi perlu dilandasi dengan pemahaan yang kompleks. Sekarang, ketakutan dengan BHP akan beralasan bukan sebagai ketakutan melainkan bencana. Ingat..!! Pemberlakuan BHP tidak hanya berkutat diwilayah perguruan tinggi saja melainkan itu berimplikasi di semua sektor pendidikan sampai di tingkatan Sekolah dasar (SD). Rencana pemerintah mem-BHP-kan seluruh sistem pendidikan nasional telah menjadi agenda sejak jauh hari, pada masa Habibie dirumuskan regulasi yang mungkin kita tidak kenal bernama PP  61/1999 yang mencoba mengatur status perguruan tinggi menjadi badan hukum. setelah ditetapkan pada tanggal 24 juni 1999 menjadi populer dengan sebutan BHMN (BADAN HUKUM MILIK NEGARA) regulasi ini berisi semua mekanisme operasional dari badan hukum BHMN juga berkaitan erat dengan program pencabutan subsidi pemerintah di sektor pendidikan. untuk pengalokasian 20% dari APBN bagi pendidikan hanyalah pasal kosong tanpa kekuatan hukum. Amanat dalam BMHN tersebut menjadi warisan buat presiden berikut. Megawati kemudian beraksi dengan produk hukum dengan nama UU No 20 Tahun 2003 atau SISDIKNAS (sistem pendidikan nasional). Konsekuensi prsedural dari regulasi sebelumnyalah yang menjadi cikal bakal perumusan BHP. Semua tahu kalau pemerintahan kita adalah pemerintah yang menghabiskan energinya di tataran pembahasan doang. Pemerintah sendiri diamanatkan untuk mengalokasikan 20% dari APBN untuk biaya pendidikan ini perlu di ingat.
Berikut implikasi dari BHP
Politisasi anggaran pendidikan
 Dalam pasal 22, ayat 2 berbunyi : aset BHP dapat berasal dari modal penyelenggara, utang pada pihak lain, sumbangan atau bantuan dari pihak lain, dan hasil usaha BHP, yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. rumusan ini berarti penegasan atas otonomisasi anggaran pendidikan yang dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersatus BHP. Implikasinya mendorong lembaga pendidikan formal (bukan hanya Perguruan Tinggi) menggali sumber pendanaannya secara maksimal sekalipun itu dengan mekanisme ber-utang. Sejauh ini transparansi anggaran atau publikasi yang masih menggunakan asas subsidi dari pemerintah bahkan tidak dimengerti mahasiswa mengenai penggunaan anggaran. Tidak hanya sekedar mengenyam pendidikan akan tetapi perlu juga pemahaman atas lingkungan pendidikan tempatnya, atau mungkin ini terlalu berlebihan jika berhak untuk tahu akan hal tersebut ….???? Terlebih dengan anggaran yang lebih massif lagi jikalau pemberlakuan BHP untuk universitas tersebut. Tidak ada lembaga/ institusi yang bersih dari pengelapan anggaran bahkan KPK sekalipun.
 Kalau lembaga pendidikan bisa berlaku demikian penulis berpikir dengan apa harus membayar utang tersebut? Pendidikan tinggi saat ini memiliki sumber pendanaan riil dari biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa (SPP Dll.) selain subsidi hal ini juga memungkinkan mahasiswa menjadi “komoditi”.  Ini membuktikan ketakutan kita akan meningkatnya biaya studi menjadi lebih beralasan.  mungkin ketakutan ini bisa terbantahkan apabila taraf perekonomian masyarakat bawah ‘bisa’ ditingkatkan, meybe….! Mengenyam pendidikan tinggi sama susahnya ingin menjadi Presiden.
high level conspirasi
    Pertanyaan yang timbul dari ditelurkannya BHP ini yaitu ada apa dibalik semua ini? Seperti pada ulasan sebelumnya, pemerintah sudah menggodok embrio BHP sejak jauh hari dikarenakan desakan (pressure) dari the unholy trinity (IMF, Bank Dunia, WTO) tahun 1995 mengenai penerapan program penyesuaian struktural (structural Adjusment Program/SAP) dengan point pemangkasan semua bentuk subsidi sektor publik termasuk pendidikan. Kemudian berlanjut pada perumusan 12 sektor jasa yang masuk dalam program liberalisasi yang dirumuskan dalam agenda rapat WTO Mei 2005. Dalam rumusan 12 sektor jasa tersebut, pendidikan menjadi dominan untuk di-liberalisasi-kan dengan anggapan di negara-negara maju (amerika, uni eropa, australia) pendidikan mampu menghasilkan devisa berlipat-ganda dibandingkan dengan sektor jasa yang lain bahkan sektor industri sekalipun. Keberhasilan tersebut dipicu dari program intervensi negara maju pada sektor pendidikan negara-negara berkembang lewat penerapan empat mode penyediaan jasa berbasis e-learning atau relationship pada perguruan tinggi atau lembaga pendidikan negara berkembang. Di indonesia sendiri mode tersebut di tindaklanjuti dengan regulasi BHP. Regulasi ini niat dasarnya agar lebih memudahkan proses intervesi tersebut. Dengan alih-alih meningkatkan kemampuan serta mutu pendidikan nasional dengan perangkat BHP justru berbanding terbalik, alasannya standarisasi-akreditasi mutu pendidikan nasional agar setara dengan negara maju. Pembuktian dari pola-pola tersebut dapat dilihat dari program-program kuliah jarak jauh yang diselenggarakan  antara institusi pendidikan luar negeri dan dalam negeri, penggunaan staf pengajar luar negeri, pembukaan kelas-kelas reguler berbasis sistem pendidikan internasional dll. Justru menuntut pembiayaan mahal. Lantas, siapa yang mengenyam program-program pendidikan tersebut? Kesemua program pendidikan tersebut  diistimewakan bagi mahasiswa atau siswa dengan kapasitas ekonomi lebih bukan kapasitas pengetahuan lebih…!!! Itu mungkin anda..
    Hal ini  masih berlanjut, tuntutan negara maju (Amerika, uni eropa dll) agar indonesia memajukan pendidikan sektor pendidikan atau memajukan standarisasi-akreditasi mutu pendidikan yang skalanya masih berkutat di level regional (asia tenggara) untuk lebih maju ke skala internasional. Jikalau hal ini dipaksakan via BHP dikhawatirkan elemen yang menjadi imbas adalah tenaga pengajar/guru lokal. Program sertifikasi tenaga pengajar yang digunakan untuk meng-upgrade kamampuan tenaga pendidik/guru justru menjadi momok menakutkan. Bagaimana tidak, sistem pengajaran yang dianut tenaga pendidik/guru lokal coba di revisi atau di evalusi dengan instrumen pengajaran baru yang lebih modern lewat pelaporan atau perumusan sistematika pembelajaran yang tidak dipahami sebelumnya. Pemberlakuan BHP pada semua sektor pendidikan justru membuka kesenjangan atau peluang masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dan lebih layak. Bukan hanya sekedar mahasiswa, siswa atau guru yang menjadi imbas dari pemberlakuan BHP masyarakat pun demikian. Pembiayaan biaya pendidikan yang mahal tidak memungkinkan untuk menggapai hal tersebut. Sebagai contoh, UI (universitas Indonesia) tidak mengoleksi mahasiswa yang taraf penghasilan ekonomi orang tuanya di bawah 1 juta/bulan, terkecuali Beasiswa. kelas-kelas internasional yang dibuka sekolah negeri hanya diisi oleh siswa yang mampu membayar SPP di atas Rp 500.000/semester bukan siswa yang mendapat peringkat 1-5 dalam kelas-kelas konvensional. Dapat disimpulkan motif dominan dari pemberlakuan regulasi BHP murni menyangkut Profit (laba) dengan produk jualannya adalah institusi pendidikan plus peserta didiknya. Lembaga pendidikan ditutut meningkatkan mutu pendididkan yang ditempuh dengan pembiayaan yang mahal, penyelenggaraan pendidikan yang sederhana ini saja mampu atau tidak mampu sudah cukup memberatkan apalagi di limpahkan kepada institusi luar negeri atau sumber pendanaan lain lewat mekainisme berutang, jadi bingung harus bayar pakai apalagi…?? Penerapan intitusi pendidikan menjadi badah hukum agar pemerintah dapat bermitra dengan institusi luar negeri dalam pembiayaan yang mencapai 20% dari pos APBN, saat ini pemerintah cukup mampu mengalokasikan kurang lebih 8-9 % biaya pendidikan, sisanya dialihkan. Pemerintah memposisikan diri sebagia pemilik dari badan hukum tersebut sedangkan pengoperasian institusi pendidikan dalam hal pembiayaan menjadi tanggung jawab institusi yang sudah ter-BHP.
    Jadi yang perlu di simpan dalam memori ingatan pembaca adalah pemberlakuan BHP tidak hanya untuk universitas akan tetapi menggurita sampai pada level pendidikan paling bawah sekalipun (SD). Institusi pendidikan yang ter-BHP menuntu biaya lebih (high cost) dalam prosesnya yang memingkinkan meningkatnya beban studi dan semua implikasi yang ada di benak pembaca itu mungkin terjadi. Lantas untuk siapa pendidikan itu..???. kesemua ini bukanlah sebuah kepanikan. Bagi penulis tidak ada alasan untuk tidak takut..!!
Menunggu adalah dosa besar dalam perubahan (Resorgimento)

Pengumuman:
TIDAK ADA SEKOLAH MURAH                

Konstruksi pengetahuan;Kontelasi ruang empiris dan gerak eksistensial pada kesadaran berpengetahuan

CeZLy PSB


Pengetahuan dapat dipahami sebagai instrumen kompleks dari proses interkasi manusia dengan kesadaran lain diluar dirinya. Pengetahuan juga dapat dipahami sebagai bangunan kesadaran berfikir manusia yang telah melewati perdebatan dan pertimbangan akan kausalitas kebendaan dan pengaruhnya terhadap aktifitas hidup manusia. Selain itu pengetahuan dapat juga dipahami sebagai proses identifikasi manusia akan material-material hidup yang kompleks yang diterjemahkan secara bersama dengan manusia lainnya. Pada kesadaran lain, proses interaksi baik secara empirik maupun subjektif kemudian digiring pada ruang perdebatan dan pengujian akan kemampuan kesadaran tersebut dapat diterima dan memiliki penjelasan yang mampu menerjemahkan kesadaran hidup manusia saat itu. Proses eksperimental tersebut yang menasbihkan pengetahuan tersebut mapan pada taraf kreatifitas berfikir dan juga layak dalam penerjemahan kerumitan gerak hidup manusia, hal demikian yang mengantar pada kesadaran ilmu dari pengetahuan tersebut. Secara sederhana ilmu dapat dijelaskan sebagai instrumen dengan penjelasan yang menuntun pada proses interaksi dan penciptaan yang mendorong peningkatan kemampuan berfikir.

to be continued..............

22.11.10

Lirik Lagu


ROSsa TAKKAN BERPALING dariMU

Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasa-Mu
Yang tak kan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini

Terima kasihku pada-Mu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya Diri-Mu yang tahu, besar rasa cintaku pada-Mu

Oh Tuhan anugerah-Mu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku, Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku tak kan berpaling dari-Mu

(Terima kasihku) Ya Allah
(Tuhanku) Anugerah-Mu
(Anugerah-Mu)

Engkau sisihkan semua aral merintang dihadapanku
Dan buat terang sluruh jalan hidupku melangkah

Terima kasihku pada-Mu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya Diri-Mu yang tahu, besar rasa cintaku pada-Mu

Anugerah-Mu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku, Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku tak kan berpaling dari-Mu

termodinamika

Ekspansi linear P-V dari gas ideal

José María Mínguez
Dpto. de Física Aplicada II, Facultad de Ciencias, Universidad del País Vasco, Bilbao, Spain
Abstrak
Transfer panas ke dan dari gas sempurna, melalui
P-V ekspansi linear, dianalisis sebagai
latihan pedagogis.
Analisis T-S terbukti berguna untuk menghitung efisiensi termodinamika
siklus tertentu dan membantu siswa untuk pemahaman yang lebih baik dari hukum kedua dan lainnya
topik fundamental.

Kata kunci : gas ideal; ekspansi P-V linier, perpindahan panas; efisiensi

Pendahuluan
Perluasan negatif miring gas ideal memerlukan beberapa pemikiran, seperti ditunjukkan oleh Dickerson dan Mottman [1], sehingga masalah khas dapat diselesaikan dengan benar ketika mengajar termodinamika pengantar. Bekerja di luar aliran panas ke dan dari gas memperluas dapat memberikan kontribusi pemahaman yang lebih baik dari hukum kedua oleh siswa, yang merupakan latihan didaktis yang juga sangat berguna dalam kaitannya dengan topik lain termodinamika mendasar karena biasanya disajikan dalam teks klasik buku [2-4].
Karena P-V ekspansi linear gas telah komprehensif dianalisis dalam P-V diagram dalam literatur sebelumnya [1, 5-8], dalam makalah ini perluasan gas ditangani terutama setelah T-S representasi, di mana panas mengalir ke dan dari gas bisa terang dibaca.
Diagram P-V
Jika garis lurus mewakili ekspansi linear gas ideal berjalan dari titik
(0, P) sampai (V, 0) persamaan adalah:

P = P

Simak
Baca secara fonetik
Sekarang, hanya dua Hasilnya akan ingat dari diagram P-V sehubungan dengan ekspansi linear gas ideal. Pertama, batas antara gas menyerap panas dan menyampaikan hal tersebut terjadi pada:
yang sama untuk semua ekspansi berkumpul di V pada P = 0, seperti yang diwakili 0 pada Gambar. 1. Kedua, variasi suhu, sedangkan gas meningkat volumenya, diberikan oleh:







Simak
Baca secara fonetik







Gambar.1
ekspansi linear gas ideal berkumpul di V pada P = 0. Dalam semua kasus panas 0 energi berhenti memasuki gas dan mulai meninggalkannya di V = g V (g +1) 0
P yang dalam setiap kasus ordinat pada V = 0.
Diagram T-S
Diagram T-S Sekarang, dari sudut pandang pedagogis, mungkin mudah, berikut ini bekerja dengan Valentine [9], untuk pergi lebih jauh ke dalam perluasan gas ideal dalam diagram T-S, di mana aliran panas akan langsung dibaca. Dengan tujuan ini dalam pikiran, kita menulis:
dan
Sekarang, dengan menggantikan persamaan 1 dan 3 ke dalam persamaan 6 dan mengingat bahwa gas memperluas menyelesaikan persamaan keadaan:
PV = NRT
mudah untuk mendapatkan hasil sebagai berikut:
                        (8)
Kemudian, integrasi persamaan 8 tidak diperlukan, namun informasi yang terkandung dalam Tabel 1, yang dapat ditarik dari itu, akan cukup untuk mewakili perluasan gas sempurna dalam diagram T-S.
Sebenarnya, mengikuti Tabel 1, kurva mewakili ekspansi gas ideal digambarkan oleh persamaan 1 dapat digambarkan dalam diagram T-S, seperti ditunjukkan pada Gambar. 2. Dalam Gambar. 2 itu telah dianggap bahwa entropi yang hilang pada suhu nol, sesuai dengan Postulat  Nernst. Jika tidak, kurva akan tetap identik dalam bentuk tetapi akan dipindahkan pada bidang T-S.
TABEL 1 Slope P - V ekspansi linear gas ideal pada diagram TS sebagai dideduksi dari persamaan 7 dan 8
Volume, V                                                                                                                                    Slope,

V= 0                                                                                                                                                 

0 < V <                                                                                                                                           

V <                                                                                                                               

 < V <                                                                                                                                

V =                                                                                                               

                                                                                                                              

V= V0                                                                                                                                                

















Dalam Gambar. 2 terbukti bahwa gas meningkatkan entropi, yang berarti dibutuhkan sebuah fluks panas dari beberapa sumber panas reversible, sementara
V =      (9)
Setelah itu, entropi tidak naik tapi berkurang dan gas mulai memberikan sebuah fluks panas.

Aplikasi
Mari kita pertimbangkan sekarang sepeda motor dari Gambar. 3, diisi oleh gas yang sempurna, dan mencoba untuk bekerja di luar efisiensi sebagai:



















Gambar. 3
Reversibel siklus diselesaikan oleh gas sempurna, menyusul ekspansi linear dan kompresi adiabatik.
                                   (10)
dimana W adalah pekerjaan disampaikan oleh sistem gas di setiap siklus, Q adalah fluks panas 1 gas ideal menerima seluruh siklus dan Q adalah panas itu memberikan.
Hal ini diperlukan untuk mencari titik, H, di mana gas panas berhenti menerima dan mulai memberikan itu, sebelum persamaan 10 dapat diterapkan. Maka mungkin untuk menghitung jumlah energi panas, Q, gas mengambil dari A ke H dan fraksi, Q, ini memberikan dari H ke B, memberikan kerja W = Q - Q per siklus.
Setelah itu, perhitungan Q dan Q dapat dilakukan dari hukum pertama termodinamika, sebagai berikut:
Q1 = Ncv (TH – TA) + WAH                      (11)
dan, sama:
Q2 = Ncv (TH – TB) + WHB                  (12)
W dan W menjadi jumlah pekerjaan disampaikan oleh gas memperluas dari A ke H dan H ke B, masing-masing, yang diberikan oleh daerah Lahm dan MHBN.
Perlu dicatat bahwa, jika ekspansi AB ditangani dengan sebagai persamaan, seluruh 11 akan menghasilkan sebagai nilai salah dari fluks panas memasuki gas:
Q1’ = Ncv (TB – TA) + WAB = Q1 – Q2                         (13)
sedangkan panas meninggalkan gas akan muncul menjadi null. Hal ini akan mengakibatkan hasil yang salah tentang efisiensi siklus menjadi kesatuan layak, yang bertentangan dengan hukum kedua termodinamika.











Skema n script

I. SKEMA DAN SCRIPT
Sejauh ini pembahasan kita mengenai pengetahuan umum telah berfokus pada kata, konsep, dan kadang kalimat. Tetapi, proses kognitif kita juga menangani unit-unit pengetahuan yang jauh lebih besar. Contohnya, pengetahuan kita mencakup informasi mengenai situasi biasa, peristiwa, dan “paket” lain dari hal-hal yang kita ketahui. Pengetahuan yang digeneralisasi mengenai situasi atau peristiwa ini dinamakan skema. Contohnya, anda mempunyai skema untuk interior dari sebuah store hardware. Ia mesti mempunyai kunci Inggris, kaleng cat, pipa, dan bola lampu—tetapi bukan buku psikologi, video tape opera, atau nuke ulang tahun.
Teori-teori skema terutama membantu ketika psikolog berusaha menjelaskan bagaimana orang-orang memproses situasi dan peristiwa kompleks. Marilah pertama-tama mempertimbangkan informasi latar belakang mengenai skema dan satu titik terkait yang dinamakan script. Kita akan mempertimbanagkan beberapa bidang penting penelitian.
1.1 Latar Belakang Skema dan Script
Teori skema mengemukakan bahwa orang-orang mengkodekan, dalam memori mereka, informasi “generic” mengenai suatu situasi. Kemudian mereka menggunakan informasi ini untuk memahami dan mengingat contoh-contoh baru dari skema. Secara spesifik, skema memandu pengenalan dan pemahaman kita mengenai contoh-contoh baru dengan memberi harapan atau perkiraan mengenai apa yang akan terjadi. Karena itu skema mengekploitasi pemprosesan dari atas ke bawah (top-down), sebuah prinsip proses-proses kognitif yang ditekankan dalam Tema 5. Skema juga memungkinkan kita untuk memprediksi apa yang akan terjadi dalam suatu situasi baru. Dalam sebagian besar, prediksi-prediksi ini akan benar. Skema adalah heuristic atau aturan umum yang biasanya akurat.
Skema kadang dapat menyesatkan kita, dan membuat kita salah. Tetapi kesalahan-kesalahan ini biasanya masuk akal dalam kerangka skema itu. Konsisten dengan Tema 2, proses-proses kognitif kita umumnya akurat, dan kesalahan-kesalahan kita biasanya rasional.
Konsep skema telah mempunyai sejarah panjang dalam psikologi. Contohnya, karya Piaget dalam 1920-an meneliti skema-skema pada bayi, dan Bartlett (1932) menguji memori untuk skema pada orang dewasa. Skema tidak popular selama era behaviorist, karena menekankan proses-proses kognitif yang tidak terlihat. Tetapi, pakar psikologi kognitif telah melakukan banyak studi mengenai topik ini, sehingga skema adalah istilah standar dalam psikologi kognitif kontemporer (Brewer, 1999).
Satu jenis umum skema adalah script. Script adalah rangkaian sederhana dan terstruktur dengan baik dari peristiwa-peristiwa yang terkait dengan satu kegiatan yang sangat dikenal (Anderson & Conway, 1993; Shank dan Abelson, 1995). Istilah-istilah skema dan script sering digunakan secara saling bertukar. Tetapi, script sesungguhnya adalah istilah yang lebih sempit, dengan merujuk pada serangkaian peristiwa yang terjadi selama satu periode waktu.
Pertimbangkan satu script tipikal, yang menggambarkan rangkaian standar peristiwa-peristiwa yang mungkin diperkirakan seorang konsumen dalam sebuah restaurant (Abelson, 1981; Schank dan Abelson, 1977). “Script restaurant” mencakup peristiwa-peristiwa seperti duduk, melihat menu, memakan makanan, dan membayar rekening. Kita juga dapat mempunyai script untuk pengunjungan ruang praktek dokter gigi, untuk bagaimana sebuah pertemuan dewan harus dilakukan dan bahkan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak mempunyai hasil yang kita harapkan. Banyak dari pendidikan awal kita terdiri dari pembelajaran scripts yang diharapkan untuk kita ikuti dalam kultur kita (Schank & Abelson, 1995).
Sekarang marilah mempertimbangkan beberapa riset yang telah dilakukan mengenai script. Kita akan mulai dengan melihat bagaimana dua factor mempengaruhi pengingatan script. Kemudian kita akan bergerak dari kategori spesifik script ke kategori lebih umum skema-skema. Terutama, kita akan menjajaki bagaimana skema beroperasi dalam memori selama proses pemilihan, abstraksi, interpretasi, dan integrasi. Tetapi sebelum anda membaca lebih lanjut, cobalah Demonstrasi 7.5 kita akan membahas implikasinya sejenak.




DEMONSTRASI 7.5
Sifat script
Sumber: alinea yang dikutip didasarkan pada Trafimow & Wyet, 1993.
Bacalah paragraph berikut, yang didasarkan pada sebuah paragraph dari Trafimow dan Wyet (1993):
Setelah melakukan ini, dia menemukan artikel. Kemudian dia berjalan melalui pintu dan mengambil sebuah permen dari sakunya. Berikutnya, dia mendapatkan sejumlah perubahan dan melihat orang yang dia kenal. Kemudian Joe menemukan sebuah mesin dia menyadari bahwa dia telah mengalami sakit kepala ringan. Setelah dia menjajarkan yang asli, Joe memasukkan koin dan mendorong tombol. Kemudian, Joe telah meng-copy potongan kertas itu.
Sekarang kembalilah ke daftar istilah-istilah baru untuk bab 7. Lihat pada kolom pertama istilah-istilah dan tuliskan definisi untuk sebanyak mungkin dari istilah-istilah ini yang anda ketahui, dengan menghabiskan sekitar lima menit pada tugas itu. Kemudian lihat pada paragraph yang berlabel :instruksi lebih lanjut untuk Demonstrasi 7.5”, yang tampak di bagian bawah dari Demonstrasi 7.6

1.2 Faktor-faktor yang Terkait dengan Pengingatan Script
Kita mencatat bahwa satu kategori skema adalah script. Karakteristik penting dari script adalah bahwa script menggambarkan suatu rangkaian peristiwa. Akibatnya setiap script mempunyai satu urutan tipikal dan linier. Riset yang dilakukan mengenai script memperlihatkan bahwa kita mengingat sebuah script secara lebih akurat jika script telah diidentifikasi sebelumnya. Riset juga memperlihatkan bahwa orang-orang umumnya gagal mengapresiasi kesamaan di antara scripts terkait.
Identifikasi script. Trafimow dan Wyer (1993) menemukan bahwa kita dapat mengingat unsur-unsur dalam sebuah script secara jauh lebih akurat jika script itu diidentifikasi secara jelas pada permulaan sebuah uraian. Para peneliti ini mengembangkan empat script, yang masing-masing menggambarkan satu rangkaian biasa tindakan-tindakan: Meng-copy selembar kertas, menguangkan sebuah cek, membuat teh, dan menaiki kendaraan subway. Beberapa rincian yang tidak relevan pada script (seperti mengambil sebuah permen dari saku) juga ditambahkan. Dalam beberapa kasus, peristiwa pengidentifikasian script disajikan pertama. Dalam kasus lainnya, peristiwa pengidentifikasian script disajikan belakangan, seperti dalam kalimat mengenai peng-copy-an potongan kertas dalam Demonstrasi 7.5.
Setelah membaca semua keempat uraian, para partisipan diberi tugas pengisian lima menit, yang mensyaratkan pengingatan nama-nama dari negara-negara bagian AS dan ibu kotanya. Kemudian mereka diminta untuk mengingat peristiwa-peristiwa dari keempat uraian asli. Hasil-hasil untuk paragraph yang memuat enam peristiwa yang terkait dengan script (seperti dalam demonstrasi n7.5) menunjukkan bahwa partisipan mengingat 23% dari peristiwa-peristiwa tersebut ketika peristiwa pengidentifikasian script telah disajikan pertama-tama. Di pihak lain, mereka mengingat hanya 10% ketika peristiwa pengidentifikasian script telah disajikan terakhir. Seperti mungkin anda perkirakan, peristiwa dalam satu rangkaian jauh lebih mudah diingat jika anda dapat mengapresiasi—dari permulaan sekali—bahwa peristiwa-peristiwa ini semuanya adalah bagian dari sebuah script standar. Dengan jenis informasi latar belakang ini, masing-masing peristiwa dalam rangkaian logis.
Mengapresiasi Kesamaan Scripts Terkait. Script adalah abstraksi, prototip dari serangkaian peristiwa yang sama-sama mempunyai satu
Kesamaan pokok. Apakah orang-orang dalam mengapresiasi satu tingkat abstraksi yang bahkan lebih canggih? Artinya, apakah mereka dapat melihat kemiripan di antara dua jenis script yang mempunyai jenis-jenis motif dan hasil yang serupa?
Colleen Seifert dkk (1986) memeriksa episode-episode yang serupa secara tematis. Contohnya, satu episode terjadi dalam situasi akademik. Itu berkenaan dengan Dr. Popoff, yang mengetahui bahwa mahasiswanya Mike tidak senang dengan fasilitas riset. Ketika Dr. Popoff mengetahui bahwa Mike telah diterima pada sebuah universitas saingan, dia cepat menawarkan kepada Mike peralatan riset yang sangat banyak. Tetapi, pada saat itu, Mike telah memutuskan untuk beralih. Episode kedua terjadi dalam situasi romantis. Phil dan sekretarisnya jatuh cinta, tetapi Phil terus menunda untuk meminta dia menikah. Sementara itu, sekretaris itu jatuh cinta dengan seorang akuntan. Ketika Phiol mengetahui itu, dia meminangnya. Tetapi, pada saat itu, dia dan akuntan tersebut sudah sedang membuat rencana bulan madu. Perhatikan bahwa kedua bagian cerita ini mempunyai tema yang sangat mirip.
Seifert dkk menggunakan teknik priming yang digambarkan sebelumnya dalam bab ini. Mereka ingin menemukan apakah para partisipan akan mengenali sebuah kalimat ujian secara lebih cepat jika kalimat itu telah didahului dengan kalimat priming dari cerita yang serupa secara tematis. Jika partisipan mempunyai waktu reaksi yang lebih cepat setelah stimulus priming, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka menganggap stimulus priming dan stimulus ujian terkait secara konseptual.
Tetapi, hasil-hasil dari studi menunjukkan bahwa waktu respon untuk sebuah kalimat ujian dipermudah oleh kalimat priming hanya jika partisipan telah didesak untuk memberi perhatian pada tema-tema berkurang dalam cerita yang sedang mereka baca. Kalau tidak, orang-orang tidak tampak membuat hubungan di antara kedua cerita. Tampaknya orang-orang tidak secara spontan mendeteksi kesamaan abstrak dalam scripts. Dalam bab 10, kita juga akan melihat bahwa orang-orang tidak secara spontan mendeteksi kesamaan-kesamaan abstrak di antara soal-soal matematika.
Sekarang setelah kita sudah memeriksa jenis skema yang dikenal sebagai script, marilah berpaling pada kategori skema-skema yang lebih umum dan meneliti bagaimana mereka beroperasi dalam beberapa tahap memori (Halba & Hasher 1983, Intraub dkk, 1998). Seperti akan anda lihat skema-skema penting selama kelima komponen memori ini:
1. Selama pemilihan bahan yang akan diingat;
2. Dalam perluasan batas (ketika anda menyimpan suatu adegan dalam memori);
3. selama abstraksi (ketika anda menyimpan makna, tetapi tidak rincian spesifik dari bahan);
4. Selama interpretasi (ketika anda membuat inferensi mengenai bahan); dan
5. Selama integrasi (ketika anda membentuk satu representasi memori dari bahan).
1.3 Skema dan Seleksi Memori
Riset mengenai skema dan pemilihan memori telah menghasilkan temuan-temuan kontradiktif. Kadang orang mengingat bahan paling baik bila konsisten dengan sebuah skema; kadang mereka mengingat bahan paling baik bila tidak konsisten dengan skema. Marilah pertama-tama mempertimbanagkan satu studi klasik yang mendukung memori yang konsisten dengan skema.
Memori yang ditingkatkan untuk Bahan yang Konsisten dengan Skema. Cobalah Demonstrasi 7.6 ketika anda mempunyai kesempatan. Demonstrasi ini didasarkan pada sebuah studi oleh Brewer dan Treyens (1981). Para penulis ini meminta partisipan dalam studi mereka untuk menunggu, satu pada satu waktu, di ruang yang digambarkan dalam demonstrasi. Setiap kali, eksperimen menjelaskan bahwa ini adalah kantornya, dan dia perlu memeriksa laboratorium untuk melihat apakah partisipan sebelumnya telah menyelesaikan eksperimen. Setelah 35 detik, eksperimenter meminta partisipan untuk pindah ke ruang sebelah. Di sini, setiap orang diberi test mengejutkan: ingat segala sesuatu dalam ruangan di mana anda telah menunggu.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang sangat mungkin mengingat objek-objek yang konsisten dengan “skema kantor”—hampir setiap orang mengingat meja, kursi di dekat meja, dan dinding. Tetapi hanya sedikit yang mengingat botol anggur dan teko kopi, dan hanya satu mengingat keranjang picnic. Item-item ini tidak konsisten dengan skema kantor. Selain itu, sejumlah orang “mengingat“ item-item yang tidak ada di ruangan tersebut; contohnya, sembilan mengatakan mereka mengingat buku-buku, walaupun tidak ada yang telah terlihat. Pensuplaian item-item yang konsisten dengan skema ini merupakan kesalahan rekonstruksi yang menarik.

DEMONSTRASI 7.6
Skema dan Memori
Sumber: didasarkan pada Brewer & Treyens, 1981)
Setelah membaca instruksi-instruksi ini, tutup mereka dan sisa teks dalam demonstrasi ini sehingga hanya gambar yang terlihat. Sajikan gambar kepada seorang teman, dengan instruksi,” lihat gambar kantor psikolog ini sejenak.” Setengah menit kemudian tutup buku dan tanya teman anda untuk mencantumkan segala sesuatu yang ada dalam ruangan itu.

[Gambar]
(Instruksi lebih lanjut untuk Demonstrasi 7.5: Sekarang tanpa melihat kembali pada Demonstrasi 7.5, tuliskan cerita dari demonstrasi itu, seakurat mungkin.)



Dalam kasus studi Brewer dan Treyen, orang-orang mengingat informasi yang konsisten dengan :skema kantor”, tetapi perhatikan bahwa orang-orang tidak menyadari bahwa mereka akan diminta untuk mengingat item,-item itu; dengan kata lain, tugas tersebut melibatkan pembelajaran kebetulan. Kondisi pembelajaran kebetulan bisa mendorong kita untuk lebih sembarangan (casual) mengenai pemprosesan objek-objek yang kita lihat. Akibatnya, kita mungkin mengingat objek-objek secara lebih akurat ketika mereka cocok dengan perkiraan-perkiraan kita.
Memori yang ditingkatkan untuk Bahan Yang Tidak Konsisten Dengan Skema. Seperti yang mungkin anda bayangkan, kita kadang menunjukkan ingatan yang lebih baik untuk bahan yang melanggar perkiraan kita. Orang-orang terutama mungkin mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema bila bahan itu semarak, dan bila ia mengganggu skema yang sedang berlangsung. Contohnya, Davidson (1994) menyuruh partisipan untuk membaca beragam cerita, dengan menggambarkan skema-skema terkenal seperti “pergi ke bioskop.” Hasil-hasil menunjukkan bahwa orang-orang terutama mungkin mengingat peristiwa yang menginterupsi cerita yang normal dan diperkirakan. Contohnya, satu cerita menggambarkan wanita bernama Sarah, yang pergi ke bioskop. Para partisipan sangat mungkin mengingat sebuah kalimat yang tidak konsisten dengan skema, seperti “seorang anak berlari-lari di dalam bioskop dan membenturkan kepala ke Sarah.” Di pihak lain, mereka kurang mungkin mengingat kalimat yang konsisten dengan skema, seperti “penjaga pintu menyobek karcis setengah dan memberi kepada mereka potongan karcis”. Secara sepintas, sebelum anda membaca lebih lanjut, cobalah demonstrasi 7 dan 7.8.






DEMONSTRASI 7.7
Memori Untuk Objek
Lihat objek di bawah dengan sangat hati-hati. Kemudian lihat halaman 271, précis di atas empat persegi, di mana anda akan menemukan instruksi lebih lanjut untuk demonstrasi ini.

[gambar]

DEMONSTRASI 7.8
Memori Konstruksi
Sumber: bagian 1 dan 2 dari demonstrasi ini didasarkan pada Jenskin, 1974.
Bagian 1.
Baca masing-masing kalimat, hitung sampai lima, jawab pertanyaan, dan teruskan pada pertanyaan berikutnya.


KALIMAT
Gadis itu memecahkan jendela di beranda
Pohon di halaman depan menaungi orang yang mengisap pipanya.
Kucing, yang berlari dari anjing yang menggonggong, melompat ke atas meja.
Pohon itu tinggi.
Kucing yang berlari dari anjing melompat ke atas meja.
Gadis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela di beranda.
Kucing korengan berlari dari anjing yang menggonggong.
Gadis itu tinggal di dekat pintu.
Pohon itu menaungi orang yang mengisap pipanya.
Kucing korengan melompat ke atas meja.
Gadis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela besar.
Pria itu mengisap pipanya.
Jendela besar berada di beranda.
Pohon tinggi berada di halaman depan.
Kucing melompat ke atas meja.
Pohon tinggi di halaman depan
menaungi pria itu.
Anjing menggonggong.
Jendela itu besar. PERTANYAAN
Memecahkan apa?

Di mana?

Dari apa?

Itu apa?
Ke mana?

Tinggal di mana?

Apa?

Siapa?
Melakukan apa?

Apa yang dilalukan?

Memecahkan apa?

Siapa?
Di mana?
Apa?
Ke mana?
Melakukan apa
Sedang apa?
Apa?


Bagian 2
Tutup kalimat-kalimat di atas. Sekarang baca masing-masing dari kalimat berikut dan putuskan apakah itu kalimat dari daftar dalam bagian 1.


1) Gadis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela
2) Pohon itu berada di halaman depan.
3) Kucing korengan, yang berlari dari anjing yang menggonggong, melompat ke atas meja.
4) Jendela itu berada di beranda.
5) Pohon di halaman depan menaungi pria itu.
6) Kucing berlari dari anjing.
7) Pohon tinggi menaungi pria yang sedang mengisap rokoknya
8) Kucing itu korengan.
9) Garis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela besar di beranda.
10) Pohon tinggi menaungi gadis yang memecahkan jendela itu.
11) Kucing sedang berlari dari anjing yang menggonggong.
12) Gadis itu memecahkan jendela besar.
13) Kucing korengan itu berlari dari anjing yang menggonggong yang melompat ke atas meja.
14) Gadis itu memecahkan jendela besar di beranda.
15) Kucing korengan yang memecahkan jendela di beranda memanjat pohon.
16) Pohon tinggi di halaman depan menaungi pria yang mengisap rokoknya. (Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)
(Lama_____,baru______)


(Lama_____,baru______)
(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)
(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)
(Lama_____,baru______)


(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)


(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)


(Lama_____,baru______)







(Instruksi lebih lanjut untuk demonstrasi 7.7: dalam kotak di bawah, tarik dari memori pemandangan yang anda lihat dalam Demonstrasi 7.7. Jangan lihat kembali pada foto itu!)


Rojahn dan Pettigrew (1992) melakukan sebuah meta-analisis terhadap riset mengenai memori dan skema. Sebagian besar studi yang dicakup dalam meta-analisis tampak memerlukan pembelajaran sengaja intentional learning), yakni situasi di mana orang-orang menyadari bahwa mereka akan diminta untuk mengingat item-item itu. Ketika memori dinilai dari segi ingatan—dalam studi Davidson—orang-orang kemungkinan mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema secara lebih baik dibanding bahan yang konsisten dengan skema. Ketika memori dinilai dari segi pengakuan dan hasil-hasil telah dikoreksi untuk penebakan, bahan yang tidak konsisten dengan skema masih didukung. Tetapi, ketika memori dinilai dari segi pengenalan dan hasil-hasil telah tidak dikoreksi untuk penebakan, bahan yang konsisten dengan skema didukung. Dengan kata lain, jika anda tidak dapat mengingat apakah anda telah melihat sebuah kalimat pada sebuah tes pengenalan mengenai skema film, anda lebih mungkin menebak bahwa anda melihat kalimat mengenai penjaga pintu menyobek tiket dari pada kalimat yang melanggar skema, seperti contoh kita mengenai anak yang bertubrukan dengan wanita itu.
Kenapa kita mesti sering mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema sedemikian akurat? Satu penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kita sangat mungkin mengingat bahan yang menarik perhatian dan memerlukan lebih banyak usaha untuk memprosesnya. Dengan pemprosesan mendalam dan yang membutuhkan usaha, kita akan mengingat bahan luar biasa itu.
Status Sekarang Dari Skema dan Pemilihan Memori. Ironisnya, kita tidak dapat menentukan suatu skema yang jelas untuk riset mengenai topik penting ini! Agaknya kita tampak mengingat bahan yang konsisten dengan skema secara lebih akurat jika tugas menggunakan pembelajaran insidentil atau jika memori dinilai melalui pengenalan—tanpa koreksi untuk penebakan. Tetapi dalam sebagian besar kasus pembelajaran sengaja, bahan yang tidak konsisten dengan skema tampak lebih mudah diingat.
1.4 Skema dan Perluasan Batas
Sekarang luangkan sejenak untuk memeriksa objek-objek yang anda gambar untuk Demonstrasi 7.7, dan bandingkan sketsa anda dengan foto asli. Apakah sketsa anda mencakup pinggir bawah dari tutup tong sampah—yang tidak ada dalam foto asli? Apakah sketsa anda menunjukkan lebih banyak latar belakang yang mengitari masing-masing tong sampah, termasuk bagian atas dari pagar piket? Jika demikian, anda telah menunjukkan perluasan batas. Perluasan Batas merujuk pada kecenderungan untuk mengingat telah melihat sebagian besar dari sebuah pemandangan dibanding yang sesungguhnya ditunjukkan. Kita mempunyai skema untuk pemandangan yang digambarkan dalam Demonstrasi 7.7, yang akan kita namakan “pemandangan area sampah halaman8.” Perhatikan bahwa topik-topik lain dalam diskusi skema-skema ini verbal; tetapi dalam perluasan batas bahan visual. Skema-skema kita masih membantu kita mengisi bahan yang hilang selama tugas memori.
Fenomena perluasan batas telah dikaji oleh Helene Intraub dkk. Contohnya, Intraub dan Berkowits (1996) menunjukkan kepada mahasiswa serangkaian slide seperti foto pemandangan sampah dalam Demonstrasi 7.7. Masing-masing slide ditunjukkan secara singkat, selama 15 detik atau kurang. Segera setelah itu, mereka disuruh untuk menggambar dari foto orsinil. Para partisipan secara konsisten menghasilkan sebuah sketsa yang memperluas batas-batas di luar pemandangan yang disajikan dalam foto asli. Akibatnya mereka menunjukkan lebih banyak dari latar belakang yang mengitari gambar sentral, dan mereka juga menggambarkan sebuah gambar lengkap, bukan gambar parsial.
Menurut Intraub dkk (1998), kita memahami sebuah foto dengan mengaktivasi skema perceptual. Skema ini menonjolkan sebuah gambar sentral lengkap dalam foto, dan juga mencakup representasi mental dari informasi visual yang précis di luar batas-batas foto. Intraub dkk mengemukakan bahwa kita juga menggunakan skema-skema perceptual ketika kita melihat pada pemandangan-pemandangan dunia nyata. Contohnya, lihat dari buku anda sekarang dan pertahankan kepala anda diam secara sempurna. Retina anda mendaftar sebuah panorama yang agak besar dari stimulus-stimulus visual. Sekarang tutup mata anda dan cobalah mengingat pemandangan tepat yang anda lihat. Proses-proses kognitif anda barangkali menggambarkan gambar-gambar sentral lengkap, bukan gambar-gambar parsial. Selain itu, proses kognitif anda barangkali memperluas pemandangan bahkan lebih jauh untuk mencakup bahan yang sebenarnya tidak anda lihat.
Perhatikan bagaimana skema beroperasi dalam perluasan batas-batas. Berdasarkan perkiraan-perkiraan kita, kita menciptakan skema –skema perceptual yang meluas di luar pinggir foto dan di luar lingkup retina kita. Secara sepintas, fenomena perluasan batas mempunyai implikasi penting untuk kesaksian saksi mata, sebuah topik yang dibahas dalam bab 4. Saksi mata mungkin mengingat telah melihat bagian-bagian wajah dari seorang tersangka yang sebenarnya tidak terlihat pada pemandangan kejahatan itu (Foley & Foley, 1998).
Ringkasan Seksi :Skema dan Script
1. Skema adalah pengetahuan yang digeneralisasi mengenai suatu situasi atau peristiwa; script adalah rangkaian peristiwa-peristiwa sederhana dan terstruktur dengan baik yang dikaitkan dengan kegiatan yang sangat biasa.
2. Menurut riset mengenai script, kita dapat mengingat unsur-unsur dalam sebuah script secara lebih akurat jika script diidentifikasi pada permulaan. Orang mungkin juga tidak mendeteksi kesamaan abstrak di antara dua script kalau kesamaan tidak ditunjukkan.
3. Skema mungkin beroperasi dalam seleksi memori; contohnya, orang mengingat item-item yang konsisten dengan skema kantor. Tetapi informasi yang tidak konsisten dengan skema sering lebih disukai bila tugas memerlukan pembelajaran sengaja (intensional) dan bila memori dinilai melalui ingatan.
4. Ketika kita mengingat suatu pemandangan, kita sering memperluas batas-batas objek yang sebagian telah tampak dalam pemandangan dengan “mengingat” mereka sebagai objek-objek lengkap.
5. Menurut model memori konstruktif, skema mendorong abstraksi memori, sehingga makna umum dipertahankan, sekalipun rincian pesan asli hilang. Menurut pandangan memori pragmatis, orang-orang dapat mengalihkan perhatian mereka untuk mengingat kata-kata persis—bila kata-kata spesifik benar-benar berpengaruh.
6. Skema mempengaruhi interpretasi dalam memori; orang-orang mungkin menganggap mereka mengingat inferensi yang tidak pernah benar-benar muncul dalam bahan asli. Sayangnya, orang-orang sering “mengingat” inferensi yang tidak benar dari iklan.
7. Skema mendorong representasi terpadu dalam memori; Riset menunjukkan bahwa orang-orang mungkin salah mengingat bahan sehingga lebih konsisten dengan skema mereka, terutama jika ingatan ditunda dan orang-orang melakukan tugas lain pada waktu yang sama.